Minggu, 27 Januari 2013

BBM Air untuk Masa Depan


Dalam sistem kehidupan, kita pasti sudah tidak asing lagi dengan benda yang biasa berbentuk cair ini.  Setiap  mahluk hidup sudah dipastikan menggunakannya, mulai dari Manusia, hewan sampai tumbuh-tumbuhan. Ya, air sangat penting bagi mahluk hidup yang ada di planet bumi, bahkan sebagian wilayah bumi terdiri atas 70 persen air,sehingga jika di spesifikkan “dari 100 persen air yang ada dibumi, 97 persen terdiri dari air laut” (*Diktat Rekayasa Hidrologi 2011, Vol. I Universitas Hasanuddin).

Jika dirunut dari statement diatas, dari 100 persen air yang ada dibumi, 97 persennya adalah air laut, sehingga kita bisa berasumsi bahwa hanya 3 persen air tawar yang mengalir di bumi.
Judul yang saya maksudkan bukan berarti BBM (Bahan Bakar Minyak), akan tetapi BBM yang saya maksudkan adalah singkatan dari “Belajar Bijak Menggunakan Air Untuk Masa Depan”.

Manusia merupakan mahluk di planet ini yang paling banyak menggunakan air untuk kepentingannya (*baca: kebutuhan, keperluan). Dibanding hewan dan tumbuh-tumbuhan, kita merupakan mahluk yang menjadi konsumen terbesar dalam penggunaan air di planet ini. Mulai dari kebutuhan untuk minum, mencuci, dan lain-lain. Berdasarkan data tahun 2003, Indonesia menempati urutan kelima negara kaya air di dunia (Sumber : Buku “Easy Green Living”,2009 ; Valerina Daniel). Tetapi, apa yang terjadi dengan negara ini?, banyak kasus-kasus yang mencuat di berbagai wilayah Indonesia tenatang krisis air bersih, kekeringan, hingga gagal panen dikarenakan sumber air yang ada menjadi kering.
Daerah yang dilanda musibah kekeringan bisa saja menjadi hal yang urgen dalam kasus perekonomian, dikarenakan bahan-bahan pangan yang tadinya akan segera dipanen malah menjadi layu atau mati akibat stok air yang kurang. Hal ini bisa menyengsarakan petani, dan masyarakat kalangan bawah yang notabenenya memiliki perekonomian di bawah rata-rata.
Sehingga dari segi pendapatan perekonomian Indonesia, nilai ekspor akan berkurang, untuk menyiasati hal tersebut sudah pastilah pemerintah mengimpor barang-barang pangan dari luar negeri, apalagi Indonesia sudah membuka diri untuk pasar global, barang-barang pangan dari luar negeri pun dengan mudahnya masuk ke negara kita, sehingga nilai jualnya lebih mahal daripada produk lokal, lagi-lagi masyarakat kalangan bawah yang terkena dampaknya.

Sebenarnya, bukan stok air yang kurang menurut saya, akan tetapi berbagai masalah yang dihadapi negeri ini yang menjadi fokusnya, mulai dari perubahan iklim yang tak menentu hingga penggunaan air tersebut yang agak berlebihan oleh kalangan manusia. Indonesia merupakan negara berkembang yang masih rawan terkena dampaknya, penelitian menyebutkan bahwa negara berkembang telah berada dalam kondisi rawan tehadap keragaman iklim dan memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk menghadapinya, dan untuk menekan biaya hal tersebut, dapat dilakukan melalui mitigasi dan adaptasi.
Dalam kasus penggunaan air berlebih, sebenarnya kita harus memulai dari manusia itu sendiri untuk merubahnya,pemborosan air yang terkadang dilakukan manusia bisa saja menimbulkan dampak tersebut.  Adaptasi merupakan cara yang paling efektif untuk mengatasi hal tersebut dalam beberapa dekade yang akan datang, “it’s not too late, friend”.
Tidak ada kata terlambat untuk mengatasi masalah ini, mulailah dari diri kita sendiri, banyak artikel yang memberikan tips-tips bagaimana hidup hemat menggunakan air, untuk me-refresh hal tersebut akan saya lampirkan beberapa tips-tipsnya :

Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa, “lebih dari seperempat air bersih yang anda gunakan di rumah dihabiskan untuk menyiram toilet”, oleh karena itu saya akan memulainya dari toilet dulu.
-Toilet :
>Gunakan toilet yang mempunyai dua jenis tombol penyiram. Tombol yang kecil untuk buang air kecil, dan tombol yang besar untuk buang air besar.
>Pilihlah toilet yang lebih ramping karena lebih hemat air (*sebelum membangun rumah pastinya rencanakan dulu)
>Mandi dengan shower jauh lebih hemat ketimbang menggunakan bak mandi apalagi berendam
>Matikan keran saat anda menyikat gigi
-Laundry:
>Jika menggunakan mesin cuci, tunggu hingga kapasitas maksimum mesin, ini dapat menghemat penggunaan air
-Kendaraan:
>Cuci mobil/motor anda ketimbang  memasukkan di tempat pencucian mobil/motor
>Lengkapi semprotan air pada selang dengan penutup otomatis, ini berguna untuk menghindari air yang terbuang ketika tidak digunakan sedangkan keran masih terbuka
>Sebisa mungkin gunakan 1-2 ember dan sedikit sabun untuk mencuci mobil
-Keran:
>Jangan biarkan keran air terus mengalir saat mencuci
>Gunakan mangkuk besar untuk membilas sayur atau untuk mencuci dan membilas piring cucian
>Gunakan sisa air bilasan utnuk menyiram tanaman anda, asal tidak terlalu bersabun
>Segera perbaiki keran yang bocor
>Atur keran agar keluar sesuai dengan kebutuhan
(*Sumber: Easy Green Living;2009, Valerina Daniel)

Ketika hal ini sudah tertanam dalam diri kita, dengan sendirinya keuarga yang ada di lingkungan rumah akan terkena pengaruhnya, ini bisa saja dipastikan kalau dikaitkan dengan hukum ‘the law of attraction’ (hukum tarik-menarik), bisa saja kan.
Oleh karena itu, mulai dari sekarang kampanyekan mulai dari diri sendiri dulu terus ke keluarga untuk penggunaan hemat air, ketika lingkungan keluarga sudah bisa kita praktikkan, lanjut lagi ke masyarakat luas. Dengan sendirinya akan terbentuk masyarkat yang peduli akan pentingnya air, maka dari itu, kita harus belajar untuk bijak menggunakan air untuk kehidupan masa depan.