SOLUSI PERMASALAHAN PERUBAHAN IKLIM
Beberapa hari yang lalu saya sempat
menemukan artikel di koran mengenai opini para pakar dalam mengatasi masalah
lingkungan yang berhubungan dengan perubahan iklim yaitu, mengenai masalah
solusi untuk mengatasi perubahan iklim khususnya.
Bermula dari kata “climate change”.
Kata ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga para aktivis yang bergerak
di bidang lingkungan, beberapa penyebab utamanya bisa kita bagi dalam 2 bagian,
pertama dari segi Alam dan yang kedua dari segi ekonomi.
Pada
bagian pertama mengenai masalah alam, hal ini bisa kita rasakan sendiri di
negeri kita, dimana suhu dan konsentrasi gas di atmosfer meningkat, contohnya;
Karbon dioksida, Senyawa Oksida, dan Metana. Gas-gas yang telah mencemari alam
ini sudah banyak terjadi di beberapa Negara maju, contohnya Amerika. Negara
Adidaya tersebut merupakan salah satu pemeran utama dalam produsen industri
global yang masuk dalam daftar
penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.
Pada bagian kedua kita melihat dari sudut pandang
ekonomi, ketika ekonomi dunia meningkat akan berdampak pada penggunaan energi
untuk menghasilkan produk yang akan dipasarkan.
Dua hal ini mengakibatkan korelasi
yang tidak bisa dipisahkan, hubungan sebab-akibat antara konsentrasi gas di
atmosfer dan ekonomi dunia akan berujung
pada permasalahan iklim, pada dasarnya konsentrasi gas yang mengakibatkan
kenaikan suhu beberapa derajat, timbul akibat pembakaran bahan bakar fosil;
batu bara, minyak, dan gas alam. Bahan bakar fosil tersebut guna untuk
menghasilkan energi pada produksi barang-barang yang dipasarkan secara global
maupun non-global. Ketika hal ini terjadi maka, konsumsi masyarakat akan
produk-produk industri maupun non-industri akan mengakibatkan ekonomi dunia
meningkat.
Pada tahun 1993, dunia sepakat untuk
mengurangi emisi CO2 dan berbagai gas lainnya untuk mengurangi dampak pada
perubahan iklim, tapi tidak banyak kemajuan yang tercapai. Sebaliknya,
pertumbuhan ekonomi yang pesat di Negara-negara yang baru bangkit seperti Cina.
Negara-negara yang baru saja membangkitkan ekonomi untuk produk industrinya
(dalam hal ini Negara Cina) banyak menggunakan baru bara yang mengkibatkan
peningkatan emisi secara global, emisi yang terbuang di alam ini khususnya
karbon dioksida akan menyebabkan peningkatan suhu global yang
signifikan yang berakibat pada meningkatnya permukaan laut, hal ini berdasar
pada jurnal yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of
Sciences (15/7), Saat ini kenaikan suhu bumi dan mencairnya es (glaciers)
menjadi penyebab utama kenaikan air laut, setiap kenaikan suhu bumi satu
derajat akan menyebabkan kenaikan air laut hingga hingga lebih dari 2 meter
(2,3 meter).
Dari beberapa akibat yang
ditimbulkan oleh kenaikan suhu bumi selain meningkatnya permukaan laut adalah:
-Menimbulkan mega badai
-Gelombang panas yang massif
-Kekeringan yang ekstrem
-Banjir bandang, serta
-Menurunkan keanekaragaman hayati.
Berbagai permasalahan lingkungan
yang saya sebutkan diatas, memunculkan permasalahan yang lebih dinamis, bisa
saja menurut perspektif masyarakat kebanyakan akan mengatakan ini merupakan
bencana alam yang didatangkan oleh Tuhan, sejatinya kita bisa melihat masalah
ekologi yang sering terjadi di negeri kita, nasib Tuhan selalu menjadi kambing
hitam ketika terjadi bencana-bencana tersebut, inilah yang harus kita bedakan
antara “bencana alam dan kasus lingkungan hidup”.
Kembali ke pokok permasalahan, dalam mengatasi
perubahan iklim yang meng-global;
Change The
Energy System
Dalam proses produksi industri,
penggunaan bahan bakar fosil masih begitu mendalam karena kegunaannya yang
sangat urgen seperti; menghasilkan
listrik, menggerakkan industri, dan angkutan transportasi di dunia. Muncul dua
pertanyaan :
1. Bagaimana
mempertahankan kemajuan di bidang ekonomi, sementara penggunaan system energy
yang masih berlaku pada saat ini adalah bahan bakar fosil ?
2. Bagaimana
mengurangi emisi karbon pada penggunaan bahan bakar fosil tersebut ?
Esensinya ada 2 solusi,
tetapi belum dilaksanakan secara luas
1. Beralih
ke sumber “Renewable Energy” à
Tenaga Angin, Surya, dan Air
Sumber energi
terbarukan ini tidak menghasilkan emisi CO2, dimana ia bisa diperluas tanpa
ongkos sosial dan lingkungan yang besar yang harus dibayar. (*Cost?)
2. Menangkap
emisi CO2 dan disimpan dalam tanah à
Teknologi CCS (Carbon Capture Sequestration) (*Belum terbukti pada skala yang
besar)
Teknologi CCS
ini dapat menangkap CO2 pada pembangkit listrik, dan menangkap CO2 langsung
dari udara dengan proses kimiawi yang khusus dirancang untuk itu. Cara manapun
yang digunakan, CCS membutuhkan investasi yang besar di bidang penelitian dan
pengembangan sebelum menjadi teknologi yang diandalkan.
NB : (pada saat
tulisan ini di post-kan, penulis belum melihat teknologi CCS secara nyata)
Negara-negara
Eropa sedang berusaha untuk mengurangi emisi dengan memberlakukan sistem yang
mengharuskan setiap industri penyebar emisi mendapatkan izin untuk setiap ton
CO2 yang mereka sebarkan. Izin yang diperdagangkan harganya US$ 30 per ton.
Dengan harga rendah ini, perusahaan tidak tertarik memangkas emisinya sehingga
bisa saja terjadi krisis jika pajak ini diberlakukan.
Untuk
itu, kita bisa menarik solusi yaitu, pajak atas emisi CO2 dinaikkan sehingga
dimasa depan akan berangsur-angsur dan dapat terprediksi. Dari sebagian
pendapatan pajak atas emisi tersebut dialihkan dan disalurkan sebagai subisidi
untuk sumber-sumber energi rendah karbon, atau sumber energi terbarukan;
Pembangkit listrik tenaga angin, surya, dan air, serta untuk menutup biaya
pengembangan teknologi CCS.
Uhwan
Subhan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar