Rabu, 17 Juli 2013

SOLUSI PERMASALAHAN PERUBAHAN IKLIM


Beberapa hari yang lalu saya sempat menemukan artikel di koran mengenai opini para pakar dalam mengatasi masalah lingkungan yang berhubungan dengan perubahan iklim yaitu, mengenai masalah solusi untuk mengatasi perubahan iklim khususnya.
Bermula dari kata “climate change”. Kata ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga para aktivis yang bergerak di bidang lingkungan, beberapa penyebab utamanya bisa kita bagi dalam 2 bagian, pertama dari segi Alam dan yang kedua dari segi ekonomi.
Pada bagian pertama mengenai masalah alam, hal ini bisa kita rasakan sendiri di negeri kita, dimana suhu dan konsentrasi gas di atmosfer meningkat, contohnya; Karbon dioksida, Senyawa Oksida, dan Metana. Gas-gas yang telah mencemari alam ini sudah banyak terjadi di beberapa Negara maju, contohnya Amerika. Negara Adidaya tersebut merupakan salah satu pemeran utama dalam produsen industri global yang  masuk dalam daftar penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.
Pada bagian kedua kita melihat dari sudut pandang ekonomi, ketika ekonomi dunia meningkat akan berdampak pada penggunaan energi untuk menghasilkan produk yang akan dipasarkan.
Dua hal ini mengakibatkan korelasi yang tidak bisa dipisahkan, hubungan sebab-akibat antara konsentrasi gas di atmosfer  dan ekonomi dunia akan berujung pada permasalahan iklim, pada dasarnya konsentrasi gas yang mengakibatkan kenaikan suhu beberapa derajat, timbul akibat pembakaran bahan bakar fosil; batu bara, minyak, dan gas alam. Bahan bakar fosil tersebut guna untuk menghasilkan energi pada produksi barang-barang yang dipasarkan secara global maupun non-global. Ketika hal ini terjadi maka, konsumsi masyarakat akan produk-produk industri maupun non-industri akan mengakibatkan ekonomi dunia meningkat.
Pada tahun 1993, dunia sepakat untuk mengurangi emisi CO2 dan berbagai gas lainnya untuk mengurangi dampak pada perubahan iklim, tapi tidak banyak kemajuan yang tercapai. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang pesat di Negara-negara yang baru bangkit seperti Cina. Negara-negara yang baru saja membangkitkan ekonomi untuk produk industrinya (dalam hal ini Negara Cina) banyak menggunakan baru bara yang mengkibatkan peningkatan emisi secara global, emisi yang terbuang di alam ini khususnya karbon dioksida akan menyebabkan peningkatan suhu global yang signifikan yang berakibat pada meningkatnya permukaan laut, hal ini berdasar pada jurnal yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences (15/7), Saat ini kenaikan suhu bumi dan mencairnya es (glaciers) menjadi penyebab utama kenaikan air laut, setiap kenaikan suhu bumi satu derajat akan menyebabkan kenaikan air laut hingga hingga lebih dari 2 meter (2,3 meter).
Dari beberapa akibat yang ditimbulkan oleh kenaikan suhu bumi selain meningkatnya permukaan laut adalah:
-Menimbulkan mega badai
-Gelombang panas yang massif
-Kekeringan yang ekstrem
-Banjir bandang, serta
-Menurunkan keanekaragaman hayati.
Berbagai permasalahan lingkungan yang saya sebutkan diatas, memunculkan permasalahan yang lebih dinamis, bisa saja menurut perspektif masyarakat kebanyakan akan mengatakan ini merupakan bencana alam yang didatangkan oleh Tuhan, sejatinya kita bisa melihat masalah ekologi yang sering terjadi di negeri kita, nasib Tuhan selalu menjadi kambing hitam ketika terjadi bencana-bencana tersebut, inilah yang harus kita bedakan antara “bencana alam dan kasus lingkungan hidup”.

Kembali ke pokok permasalahan, dalam mengatasi perubahan iklim yang meng-global;
Change The Energy System
Dalam proses produksi industri, penggunaan bahan bakar fosil masih begitu mendalam karena kegunaannya yang sangat urgen  seperti; menghasilkan listrik, menggerakkan industri, dan angkutan transportasi di dunia. Muncul dua pertanyaan :
1.       Bagaimana mempertahankan kemajuan di bidang ekonomi, sementara penggunaan system energy yang masih berlaku pada saat ini adalah bahan bakar fosil ?
2.       Bagaimana mengurangi emisi karbon pada penggunaan bahan bakar fosil tersebut ?

Esensinya ada 2 solusi, tetapi belum dilaksanakan secara luas
1.       Beralih ke sumber “Renewable Energy” à Tenaga Angin, Surya, dan Air
Sumber energi terbarukan ini tidak menghasilkan emisi CO2, dimana ia bisa diperluas tanpa ongkos sosial dan lingkungan yang besar yang harus dibayar. (*Cost?)
2.       Menangkap emisi CO2 dan disimpan dalam tanah à Teknologi CCS (Carbon Capture Sequestration) (*Belum terbukti pada skala yang besar)
Teknologi CCS ini dapat menangkap CO2 pada pembangkit listrik, dan menangkap CO2 langsung dari udara dengan proses kimiawi yang khusus dirancang untuk itu. Cara manapun yang digunakan, CCS membutuhkan investasi yang besar di bidang penelitian dan pengembangan sebelum menjadi teknologi yang diandalkan.
NB : (pada saat tulisan ini di post-kan, penulis belum melihat teknologi CCS secara nyata)

Negara-negara Eropa sedang berusaha untuk mengurangi emisi dengan memberlakukan sistem yang mengharuskan setiap industri penyebar emisi mendapatkan izin untuk setiap ton CO2 yang mereka sebarkan. Izin yang diperdagangkan harganya US$ 30 per ton. Dengan harga rendah ini, perusahaan tidak tertarik memangkas emisinya sehingga bisa saja terjadi krisis jika pajak ini diberlakukan.
Untuk itu, kita bisa menarik solusi yaitu, pajak atas emisi CO2 dinaikkan sehingga dimasa depan akan berangsur-angsur dan dapat terprediksi. Dari sebagian pendapatan pajak atas emisi tersebut dialihkan dan disalurkan sebagai subisidi untuk sumber-sumber energi rendah karbon, atau sumber energi terbarukan; Pembangkit listrik tenaga angin, surya, dan air, serta untuk menutup biaya pengembangan teknologi CCS.



                                                                                                                                                        Uhwan Subhan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar